Teknologi untuk Menyurgakan Indonesia yang Katanya Tanah Surga
The Challenge Ahead
![]() |
| kemacetan di ibukota Jakarta |
Permasalahan
kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta merupakan deretan pertanyaan yang
tak kunjung mendapatkan jawaban secara konkret. Berbagai upaya yang dilakukan
pemerintah belum bisa menanggulangi semua masalah yang ada. Sementara itu,
masalah lainnya terus berdatangan dan masalah yang belum sempat teratasi
menjadi semakin parah. Contohnya adalah banjir dan macet. Banjir masih menjadi PR bagi pemerintah dan seluruh
warga Jakarta. Banjir seperti menjadi
agenda tahunan yang tidak akan pernah dilewatkan kota ini. Lebih dari 60%
wilayah di Jakarta terendam banjir,
mengakibatkan kerugian hingga mencapai 5,2 triliun serta memakan korban 80 jiwa
di tahun 2007. Hal ini terjadi akibat kurangnya resapan air yang ada di
ibukota. Selain itu, rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk membuang
sampah pada tempatnya juga merupakan salah satu faktor penyebabnya. Menurut www.greenpeace.org Jakarta menghasilkan sekita 6,000 ton
sampah setiap hari, dimana 2,000 ton diantaranya berakhir di sungai-sungai.
![]() |
| Banjir di Jakarta |
Isu
tentang energi akhir-akhir ini juga hangat menjadi topik pembicaraan. Menurunnya
ketersediaan bahan bakar fosil yang ada di bumi membuat kita mau tidak mau
harus melakukan inovasi. Pemanfaatan sumberdaya alam baru terbarukan menjadi
salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini. Akan tetapi, dibutuhkan biaya
yang sangat tinggi untuk mengolah sumberdaya alam baru terbarukan seperti angin
dan matahari untuk akhirnya diubah menjadi energi listrik. Dapat diperkirakan
bahwa 20 tahun mendatang, teknologi yang ada akan berkali lipat jauh lebih maju
daripada sekarang. Seiring dengan berkembangnya teknologi, energi yang
dikonsumsi tentunya juga akan meningkat. Salah satu cara untuk mengatasi
masalah ini adalah dengan memanfaatkan energi baru terbarukan seperti matahari,
angin, air, dan biogas.
![]() |
| THE FUTURE IS IN OUR HANDS |
Rancangan Kota Impian
Desain
rumah panggung merupakan alternatif yang bisa diterapkan dalam membangun kota
impian. Perumahan penduduk kota berada 10 meter diatas tanah dengan jarak antar
bangunan 10 meter sehingga lahan yang berada di bawahnya bisa ditanami pohon. Adanya
banyak pohon dapat mengurangi kandungan CO2 di atmosfer sehingga
dapat mengatasi globalisasi. Selain itu juga diharapkan dapat mengatasi masalah
banjir karena lahan untuk resapan air menjadi lebih banyak. Pemerintah di kota
impian memberlakukan peraturan bahwa seluruh pekerja dan pelajar diwajibkan
menggunakan transportasi umum, bersepeda atau berjalan kaki. Transportasi umum
kota adalah underground (kereta bawah tanah). Untuk para pejalan kaki
disediakan jalan setapak yang melewati taman-taman kota. Sepeda yang digunakan
warga kota impian adalah sepeda listrik yang energinya diperoleh dari konversi
energi kinetik roda yang berputar menjadi energi listrik. Fasilitas-fasilitas
umum seperti rumah sakit, sekolah, pasar, dan lain sebagainya berada di atas
tanah (tidak berada di rumah panggung).
![]() |
| Future Town |
Sumber
energi kota ini berasal dari kincir angin yang dibangun di pinggiran sungai,
panel surya yang terletak di atas rumah panggung, air terjun yang mengubah
energi potensial menjadi energi listrik, serta pemanfaatan kotoran sapi untuk
dijadikan biogas. Kota impian ini tidak lagi menggunakan bahan bakar fosil yang
menyebabkan pencemaran udara.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar